PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA: Uji Leaf Dipping Methods pada Daun Paitan (Tithonia diversifolia) sebagai Bioinsektisida Alternatif untuk menanggulangi Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

A.    JUDUL PROGRAM
            Uji Leaf Dipping Methods pada Daun Paitan (Tithonia diversifolia) sebagai Bioinsektisida Alternatif untuk menanggulangi Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)

B.     LATAR BELAKANG MASALAH
            Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu jenis hama terpenting yang menyerang tanaman palawija dan sayuran di Indonesia. Hama ini sering mengakibatkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen karena menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpotong-potong dan berlubang (Samsudin, 2008). Ulat grayak bersifat polifag atau dapat menyerang berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, dan buah-buahan. Hama ini tersebar luas di daerah dengan iklim panas dan lembap dari subtropis sampai daerah tropis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (1993), serangan ulat grayak di Indonesia mencapai 4.149 ha dengan intensitas serangan sekitar 17,80%. Serangan tersebut menurun pada tahun 1994 menjadi 3.616 ha, dengan intensitas serangan 14,40% (Badan Pusat Statistik 1994).
Berkembangnya resistensi hama terhadap insektisida yang diikuti dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan dampak buruk penggunaan insektisida secara intensif, mendorong perlunya pengendalian hama secara terpadu dengan menekanpenggunaan insektisida kimia (Carter 1989). Hal ini mendorong penggunaan komponen teknologi pengendalian selain insektisida kimia, seperti azadirachtin dan nucleopolyhedrosis pada ulat grayak (Nathan dan Kalaivani 2006). Oleh karena itu, pemakaian insektisida alami yang berasal dari tanaman menjadi salah satu solusi alternatif dari penekanan penggunaan insektisida kimia. Insektisida alami merupakan bahan mudah terurai dalam lingkungan, sehingga tidak dikhawatirkan menimbulkan bahaya dan efek samping terhadap lingkungan. Penggunaan insektisida alami merupakan salah satu alternatif pengendalian hama yang mulai banyak diminati (Triska, 2008).
Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk bahan insektisida adalah paitan (Tithonia diversifolia). Hasil penelitian Hadi (1996) menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga maupun daun Paitan (Tithonia diversifolia) tidak saja bersifat anti makan, akan tetapi juga toksik terhadap larva instar V Heliothis armigera, dengan demikian mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan insektisida botanis. Untuk menindaklanjuti informasi tersebut, penelitian ini akan menguji potensi bioinsektisida yang terkandung dalam ekstrak daun Paitan (Tithonia diversifolia) terhadap larva ulat grayak (Spodoptera litura) dengan menentukan konsentrasi larutan yang dapat menyebabkan kematian 50% dari populasi sampel ulat grayak.

C.    RUMUSAN MASALAH
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat toksisitas dari ekstrak daun paitan (Tithonia diversifolia) terhadap mortalitas larva ulat grayak (Spodoptera litura) instar III.

D.    TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat toksisitas ekstrak daun paitan (Tithonia diversifolia) terhadap mortalitas larva ulat grayak (Spodoptera litura) instar III.

E.     LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah ditemukannya formula yang terbaik dari ekstrak daun paitan (Tithonia diversifolia) sebagai insektisida terhadap ulat grayak (Spodoptera litura) instar III dan hasil penelitian ini dapat diterbitkan sebagai karya ilmiah untuk diketahui oleh masyarakat.

F.     KEGUNAAN
Kegunaan dari penelitian ini adalah masyarakat pemakai dan pemerhati penggunaan insektisida mengetahui efektivitas ekstrak daun paitan (Tithonia diversifolia) sebagai bioinsektisida pada ulat grayak (Spodoptera litura) istar III dan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya.

G.    TINJAUAN PUSTAKA
G.1      Pemanfaatan Insektisida Alami
            Insektisida merupakan pestisida yang digunakan untuk membunuh hama serangga. Banyak permasalahan yang terjadi dalam produk pertanian, salah satunya yaitu adanya sisa bahan kimia yang terkandung dalam tanaman, sehingga dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya secara terus-menerus. Dalam catatan WHO dilaporkan bahwa diseluruh dunia terjadi keracunan pestisida antara 44 ribu sampai 2 juta orang per tahun dan dari angka tersebut angka terbanyak terjadi di negara berkembang. Selain itu, penggunaan insektisida sintetis menyebabkan tiga permasalahan pokok diantaranya menimbulkan resistensi hama, membengkaknya biaya produksi insektisida, dan menimbulkan dampak negatif bagi manusia, ternak dan lingkungan (Jumpowati 1999).
            Di Indonesia, pengguanaan pestisida alami dimulai sejak tahun 1960-an dengan adanya revolusi hijau. Kesadaran masyarakat akan dampak negatif pestisida sintetik terus berkembang. Salah satu alternatif untuk menanggulangi penggunaan insektisida sintetik yaitu dengan  penggalian dan peningkatan kualitas insektisida alami sehingga memiliki daya bunuh terhadap hama sebanding dengan insektisida sintetis. Insektisida alami memiliki banyak keuntungan disamping beberapa kelemahan dalam pengaplikasiannya (Wincyber 2005).
            Menurut Stoll (1995) dalam Wincyber (2005) mengatakan bahwa dibandingkan dengan pestisida sintetik, pestisida alami memiliki sifat yang lebih menguntungkan diantaranya mengurangi resistensi hama, mengurangi kematian musuh alami hama, mengurangi resiko terjadinya letusan hama kedua, mengurangi bahaya bagi manusia dan ternak. Tidak mencemari alam, mengurangi ketergantungan petani terhadap agrokimia, dan biaya dapat lebih murah. Selain kelebihan yang telah disebutkan, menurut Martono (1997) dalam Wincyber (2005) menyebutkan kelemahan penggunaan pestisida alami yaitu daya tahan singkat (mudah terdegradasi) sehingga memerlukan frekuensi penggunaan yang lebih banyak daripada pestisida sintetik, ketersediaan bahan baku yang musiman, bahan nabati alami terkandung dalam kadar yang rendah sehingga untuk mencapai efektivitas yang memadai diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyak dan diperlukan standar pengolahan untuk tiap tanaman dan standar aplikasi pengguanaan bagi pengendalian OPT.
            Terdapat lebih dari 650 jenis tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan hama secara tradisional (Hoesain dalam Prarifitriya 2006). Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balittsa), Lembang, telah meneliti beberapa tanaman yang berpotensi sebagai pestisida alami diantaranya daun salira (Lantana camara), pahitan (Tithonia diversifolia), tikotok (Tagetes erecta), tembakau (Nicotiana tabacum), mimba (Azadirachta indica) dan lain-lain (Rukmana, dkk 2002). Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber insektisida alami yaitu pahitan (Tithonia diversifolia).

G.2      Ulat Grayak (Spodoptera litura)
1.      Bioekologi Spodoptera litura
Serangga Spodoptera litura merupakan hama yang sering menyerang tanaman diantaranya kapas, tembakau, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, kubis, pisang, jeruk, kacang tanah, jarak, lombok, bawang, kentang, bayam, kangkung, genjir, jimson weed dan beberapa jenis gulma, sehingga hal ini dapat menimbulkan kerugian terhadap hasil kualitas produksi (Anwar, 2000 dan Heroetadji 1985). Menurut Kalshoven (1981), S. litura dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kerajaan  : Animalia
Filum       : Arthropoda
Kelas        : Insecta
Bangsa     : Lepidoptera
Suku        : Noctuidae
Marga      : Spodoptera
Jenis         : Spodoptera litura (ulat grayak)   
                     Gambar 2.1 S. litura (ulat grayak)

Serangga ini berkembang secara metamorfosis sempurna. Perkembangan S. litura terdiri dari empat stadia yaitu telur, larva, pupa, dan imago.

2.      Daur Hidup Spodoptera litura
a.      Telur
Umumnya telur diletakkan dalam buah agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. Buah yang terserang ditandai dengan adanya titik-titik hitam pada lembaran daun kubis. Telur diletakkan secara berkelompok sekitar 4-8 kelompok oleh imago dengan diselimuti oleh rambut-rambut pendek. Setiap kelompok telur berisi 25-500 telur dan akan menetas dalam 3-5 hari (Heroetadji 1985). Diperkirakan kapasitas imago bertelur sekitar 2000-3000 butir dengan diameter telur rata-rata 0,3 mm. Telur berwarna abu-abu dan akan berubah menjadi warna gelap (Kalshoven 1981).

b.   Larva
Larva-larva yang baru saja menetas akan berwarna kehijauan yang kemudian menjadi warna hitam kecoklatan dengan sabuk transverse pada kedua sisi tubuhnya (Heroetadji 1985). Terdapat 6 instar stadia larva dengan periode selama 13-17 hari dengan rerata 14 hari. Larva akan tetap mengelompok beberapa hari setelah menetas yaitu larva instar 1 dengan panjang tubuh 2 mm, berada di permukaan bawah daun dan akan memakan daun secara berkelompok  Kemudian larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya untuk memakan daun secara sendiri-sendiri sehingga menyebabkan daun kubis sering berlubang-lubang. Serangan yang paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau. Larva instar 3 memiliki panjanng 7 mm, akan membuat lubang ke luar untuk meloncat menuju tanah. Pada instar 4-5 akan masuk ke dalam tanah untuk membentuk pupa. Larva ini aktif hanya pada malam hari. Ciri khas dari S. litura pada stadia ini yaitu adanya 2 buah bintik hitam yang berbentuk bulan sabit pada abdomen ke-4 dan ke-10 yang dibatasi garis kuning pada samping dan punggung (Kalsoven, 1981).

c.    Pupa
Larva berkepompong pada permukaan tanah bagian atas, membentuk pupa tanpa kokon dan berwarna coklat kemerahan, berubah coklat gelap ketika pembentukan imago mendekati sempurna. Masa prepupa merupakan masa inaktif dalam beraktivitas, tubuh larva memendek dengan bentuk meruncing ke ujung dan tumpul pada bagian kepala. Panjang prepupa 1,4-1,9 cm dengan rata-rata 1,68 cm, lebar 3,5-4 mm dengan rata-rata 3,7 mm. Menjelang masa prepupa terbentuk jaring benang untuk melindungi masa pupa. Pupa memiliki panjang 15-20 mm dan periode pupa selama 8-16 hari (Kalsoven 1981).

d.   Imago
Berupa ngengat berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam. Sedangkan sayap depan berwarna coklat muda sampai abu-abu dengan garis putih. Lebar rentang sayap imago mencapai 40 mm. Ngengat aktif pada malam hari dan sangat tertarik pada cahaya. Variasi warna coklat pada sayap depan imago jantan lebih sedikit, abdomen imago jantan lebih langsing jika dibandingkan imago betina dan pada waktu istirahat sayap menutupi tubuh imago. Periode hidup ngengat selama 9-18 hari (Kalshoven 1981).
Serangga S. litura bersifat kosmopolitan dan dalam perkembangan populasinya dapat mencapai 8 generasi pertahun. Populasinya mencapai jumlah tinggi pada bulan Oktober dan berkurang pada bulan Agustus. Larva S. litura sering memakan daun muda dan tua dan membuat lubang besar pada daun, selain itu juga memakan bagian tanaman tangkai daun. Serangga ini umumnya aktif pada malam hari dan imagonya bisa terbang sejauh 5 km. Penyebaran S. litura meliputi daearah-daerah Asia Pasifik dan Australia (Kalshoven 1981).

G.3      Paitan (Tithonia diversifolia)
1.      Klasifikasi Tithonia diversifolia
Divisio             : Spermatophyta
Subdivisio       : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Asterales
Famili              : Asteraceae
Genus              : Thitonia
Spesies            : T.  diversifolia                    Gambar 2.2 Paitan (T. diversifolia)
(Goenka, S. and Weaver R.F 2007)
Adoyo (1997), mengemukakan bahwa tanaman paitan (T. diversifolia) digolongkan dalam tanaman gulma, namun tanaman ini berkhasiat untuk menyuburkan tanaman karena cepat terdekomposisi, dapat menyediakan nutrisi bagi tanaman dan kaya akan phospor. Menurut Kardinan (2001) dalam Prarifitriya dari hasil pengujian terhadap beberapa tumbuhan penghasil pestisida nabati, daun tanaman kipahit (T. tagitrifolia) yang diujikan terhadap Tribolium castaneum merupakan jenis pestisida penolak. (Prarifitriya 2006).

2.      Morfologi Tithonia diversifolia
Tanaman Paitan (T. diversifolia) banyak ditemukan pada daerah dekat perairan/sungai. Tanaman Paitan (T. diversifolia) memiliki morfologi yaitu tinggi tanaman antara 2-3 m. Batang bulat dengan empulur putih, dekat pangkal setiap daun dengan 2 daun oval melintang dari maksimal 2 cm panjangnya. Daun bertangkai, bangun bulat telur, berangsur runcing hingga pangkal. Berlekuk 3-5 dangkal hingga dalam atau bercangap 3-5, bergerigi, berambut dan berkelenjar putih, jarang, bentuk bola, 12-32 kali 6-25 cm, taju meruncing tajam. Bongkol kebanyakan terminal, berdiri sendiri, bertangkai panjang. Tangkai mendukung beberapa daun pelindung, puncaknya membesar dan berongga. Pembalut bentuk lonceng. Dasar bunga bersama bentuk kerucut lebar. Tabung kepala sari coklat tua, cabang tangkai putik 2, melengkung kembali, kuning dimahkotai dengan alat tambahan kuning, berambut. Buah keras sering kosong, bentuk biji sempit, dimahkotai oleh cawan kecil, bergigi tak teratur dengan 2 taju bentuk jarum (Prarifitriya, 2006).

3.      Kandungan Senyawa Kimia Tithonia diversifolia
Dari hasil analisis, ekstrak daun T. diversifolia  terdeteksi sebanyak 38 komponen dengan 8 komponen utama yaitu asam palmitat; 9-entadekadien-1-ol; benzil benzoat; steraldehida; metilamina; 1,2,3,5-sikloheksantetrol serta dua senyawa yang tidak teridentifikasi (Jamal dalam Prarifitriya  2006). Salah satu komponen senyawa dalam ekstrak tersebut yaitu benzil benzoate bersifat repellent (penolak) (Ware dalam Prarifitriya 2006). Selain sebagai insect repellent, benzil benzoate juga dapat digunakan sebagai pediculicide dan scabicide (Anonim dalam Prarifitriya 2006).
Selain itu tanaman T. diversifolia  juga diketahui mengandung bahan beracun yang disebut asam palminat. Senyawa asam palminat bersifat repellent (penolak serangga) serta berpengaruh teerhadap saraf dan metabolisme serangga. Menurut Tukimin dalam Prarifitriya (2006), senyawa yang terkandung dalam tanaman ini berfungsi sebagai penolak serangga untuk makan sehingga menyebabkan serangga akan mati kelaparan. Cara masuk ke dalam tubuh serangga dari pestisida ini dapat secara kontak maupun oral (Prarifitriya 2006).

G.4.     Pemanfaatan Insektisida Nabati
            Insektisida nabati adalah insektisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai insektisida.
            Selain memiliki senyawa aktif utama dalam ekstrak tumbuhan juga terdapat senyawa lain yang kurang aktif, namun keberadaaanya dapat meningkatkan aktivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi). Serangga tidak mudah menjadi resisten terhadap ekstrak tumbuhan dengan beberapa bahan aktif, karena kemampuan serangga untuk membentuk sistem pertahanan terhadap beberapa senyawa sekaligus lebih kecil daripada terhadap senyawa insektisida tunggal. Selain itu cara kerja senyawa dari bahan nabati berbeda dengan bahan sintetik sehingga kecil kemungkinannya terjadi resistensi silang (Thamrin et al, 2008).

G.4      Metode Residu pada Daun
            Pada dasarnya, metode ini adalah membuat residu pestisida nabati menempel pada daun. Daun yang telah mengandung pestisidan nabati tersebut diberikan ke serangga uji sebagai makanan. Dengan demikian, bahan aktif pestisida nabati masuk ke dalam serangga uji melalui kulit tubuh.
            Metode ini dibagi dalam beberapa metode, tetapi metode sederhana yang dapat dikerjakan oleh petani hanya ada dua, yaitu metode pencelupan daun (leaf dipping methods) dan metode penyemprotan (Sudarmo, 2005).



H.    METODE PENELITIAN

Bagan 1. Diagram Alir Metode Penelitian

Ya

Kesimpulan

Selesai

Uji ANOVA dan Duncan

Analisis LC50 dan rumus Abbot

Uji leaf dipping methods kedua pada konsentrasi terbaik

Konsentrasi terbaik dibagi menjadi 5 tingkatan konsentrasi dan 1 kontrol

Uji leaf dipping methods awal dengan 5 konsentrasi berbeda dan 1 kontrol

Persiapan Alat dan Bahan

Mulai

Tidak


H.1      Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - Maret 2010 di Laboratorium Botani Program Studi Biologi FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

H.2      Alat
Alat yang digunakan kotak plastik dengan tutup kain kasa, gelas ukur, blender, pinset, cawan petri, penangas air, beker gelas, dan timbangan analitik.

H.3      Bahan
            Bahan-bahan yang dipakai adalah telur Spodoptera litura yang dibeli dari BALLITAS Karang Ploso Malang, daun paitan (Tithonia diversifolia) yang diambil di sekitar ITS, aquadest, kertas saring, dan daun jarak (Ricinus communis).

H.4      Cara Kerja
H.4.1   Pemeliharaan Larva Spodoptera litura (ulat grayak)
Pada penelitian ini diperlukan larva Spodoptera litura dalam jumlah ratusan. Telur dibeli dari BALLITAS Karang Ploso Malang, kelompok telur Spodoptera litura dilapisi semacam beludru berwarna cokelat. Satu kelompok telur terdiri atas ratusan butir telur. Lalu ditempatkan dalam toples yang sudah diberi daun jarak segar sebagai pakan jika sewaktu-waktu kelompok telur tersebut menetas. Ditutup dengan kasa (Sudarmo, 2005)

H.4.2   Pengadaan Ekstrak Daun Thitonia diversifolia
            Daun diambil di sekitar ITS dengan mengambil daun yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Daun yang diambil dibuat simplisia dengan mengeringkan pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung. Bahan kering tersebut dibuat serbuk sampai halus dan disaring dengan saringan tertentu sampai didapat serbuk yang homogen. Simplisia yang sudah homogen ini kemudian dilakukan ekstraksi secara maserasi bertingkat. Maserasi dilakukan dengan cara merendam dan mengaduk serbuk simplisia dalam cairan penyari dengan perbandingan 1 bagian simplisia dengan tiga bagian cairan penyari selama 24 jam sehingga zat aktif yang berada di dalam rongga sel akan larut dan karena perbedaan konsentrasi, zat aktif akan terdesak keluar dari sel.
Setelah itu, larutan difiltrasi secara perlahan dan pelarut dipertahankan tetap berada diatas serbuk sehingga serbuk tetap terendam. Bila cairan penyaring yang keluar sudah berubah warna maka filtrasi dihentikan dan serbuk dikeringkan kembali untuk dilakukan maserasi dengan pelarut lainnya. Selanjutnya, cairan filtrat dipekatkan dengan evaporator hingga pelarutnya habis. Ekstrak kemudian disimpan di dalam botol gelap (Depkes RI, 1986). Maserasi ini dimulai dengan menggunakan pelarut/penyari aseton. Residu yang didapatkan dimaserasi kembali dengan pelarut etanol 96%. Residu yang didapat dari ekstrak etanol kemudian dimaserasi kembali dengan air, sehingga akan didapatkan tiga jenis ekstrak (Suwandi, et al, 2008).


H.4.3   Pengujian Terhadap Hewan Uji
            Pengujian terhadap hewan uji dilakukan dengan metode pencelupan daun (Leaf dipping Methods) (Darmanto, 2007). Untuk memperoleh LC50 ekstrak daun Tithonia diversifolia terhadap larva Spodoptera litura dilakukan terlebih dahulu uji pendahuluan pada bulan Januari yang selanjutnya akan dilanjutkan pada tahap uji sesungguhnya pada bulan Februari sampai selesai. Digunakan larva instar III karena pada stadium ini merupakan stadium awal larva mulai banyak makan agar pemberian pakan dapat efisien. Larutan dibuat sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan. Hewan uji yang dipakai adalah larva Spodoptera litura instar III. Pada setiap konsentrasi digunakan hewan uji sebanyak 10 ekor. Mula-mula pakan larva (daun jarak) dicelupkan dalam larutan sesuai dengan konsentrasi yang diujikan selama 10 detik. Setelah itu, daun dikeringkan selama 30 menit pada suhu ruangan dan diletakkan ke dalam kotak plastik (Darmanto, 2007). Tiap kotak plastik diisi dengan satu larva saja. Makanan diganti setiap dua hari sekali (Sudarmo, 2005).

H.4.4   Tahap Uji Pendahuluan
            Tahap uji pendahuluan dilakukan pada bulan Januari. Pada tahap ini akan dibuat lima konsentrasi perlakuan ekstrak daun Tithonia diversifolia yaitu dengan melarutkan 10 ml ekstrak ke dalam aquadest 100 ml untuk larutan 10 % dan seterusnya serta satu control. Mula-mula daun pakan dicelupkan kedalam larutan ekstrak selama ± 10 detik lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan selama ± 30 menit pada suhu ruangan. Kemudian larva Spodoptera litura dipindahkan ke dalam kotak yang sudah diberi pakan. Mortalitas larva diamati setiap 24 jam selama 3 hari (Ruslan et al., 1989 dalam Nurtiato, et al., 2001). Dari data yang didapat, dapat diketahui konsentrasi terendah yang dapat menyebabkan mortalitas hewan uji sebesar 100% dalam waktu yang paling singkat. Konsentrasi ini akan diuji lebih lanjut pada uji sesungguhnya.

H.4.5   Tahap Uji Sesungguhnya
Konsentrasi yang telah didapatkan tersebut akan dibagi lagi menjadi lima tingkatan konsentrasi dan satu kontrol. Mortalitas larva diamati selama 24 jam (Ruslan, et al., 1989 dalam Nurtiati, et al., 2001) dengan tiga kali ulangan. Data mortalitas larva uji dianalisis dengan menggunakan Analisis Probit (Koestani, 1985) sehingga diperoleh nilai LC50 bahan uji.
Dari persentasi mortalitas larva, kemudian dicari nilai LC50 melalui persamaan regresi linier pada hubungan persentasi mortalitas larva dengan nilai logaritmik konsentrasi ekstrak:
y = Bx + A
dimana:
y          = log konsentrasi LC50
x          = angka probit
dari persamaan tersebut kemudian dihitung LC50 dengan memasukkan nilai probit (50% kematian : angka 50). Apabila pada kontrol ada larva yang mati, maka kematian ditentukan dengan rumus Abbot (Meyer et al, 1982 dalam Febrianto, 2006).

Keterangan:
T          = Jumlah larva yang uji mati
N         = Jumlah larva uji
C         = Jumlah larva kontrol yang mati

H.4.6   Rancangan Penelitianentrasi perlakuan ekstrak...diletakkan ke dalam kotak plastik  07). ok telur tersebut me
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 1 kontrol. Tiap perlakuan diulang 3 kali. Kontrol yaitu kelompok sampel yang tidak tercelup larutan ekstrak daun Tithonia diversifolia tetapi dicelup dengan aquades.
Variabel penelitian yang diamati adalah sebagai berikut:
a.    Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak daun Tithonia diversifolia dan bagian daun yang diambil.
b.    Variabel terikat dalam penelitian ini adalah jumlah larva Spodoptera litura yang digunakan.
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
H0   : tidak ada pengaruh ekstrak daun Tithonia diversifolia terhadap mortalitas larva Spodoptera litura.
H1   : ada konsentrasi ekstrak daun Tithonia diversifolia yang berpengaruh terhadap mortalitas larva Spodoptera litura.

H.4.7   Analisis Statistik
Pengaruh perlakuan pada setiap parameter yang diamati dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada selang kepercayaan 95%. Uji Duncan ini dilakukan untuk membandingkan hasil yang diperoleh dari setiap perlakuan (Gasperz, 1991 dalam Darmanto, 2007).

I.       JADWAL KEGIATAN PROGRAM
No.
Kegiatan
Minggu ke-
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
1.
Persiapan alat dan bahan








2.
Uji leaf dipping methods awal








3.
Uji leaf dipping methods kedua








4.
Analisis data dan statistik








5.
Pembuatan laporan









J.      RANCANGAN BIAYA
No.
Biaya
Banyaknya
Harga
Sub Total

Kesekretariatan



1.
Penggandaan proposal
5 buah
Rp. 20.000,00
Rp.100.000,00
2.
Tinta printer hitam
1 buah
Rp. 30.000,00
Rp.  30.000,00
3.
Tinta printer warna
1 buah
Rp. 30.000,00
Rp.  30.000,00
4.
Kertas A4
2 rim
Rp. 30.000,00
Rp.  60.000,00
5.
ATK
2  paket
Rp. 75.000,00
Rp.150.000,00

Alat dan Bahan



6.
Larva ulat Spodoptera litura
2000 ekor
Rp. 1.500,00
Rp.3.000.000,00
7.
Aquadest
5 Liter
Rp. 10.000,00
Rp.50.000,00
8.
Penangas air
4 buah
Rp. 5.000,00
Rp20.000,00
9.
Timbangan analitik
 1 buah
Rp. 350.000,00
Rp. 350.000,00
10.
Spritus
5 Liter
Rp. 4.000,00
Rp.  20.000,00
11.
Tabung reaksi
20 buah
Rp. 3.000,00
Rp.  60.000,00
12.
Rak tabung reaksi
5 buah
Rp. 20.000,00
Rp. 100.000,00
13.
Pipet tetes
20 buah
Rp. 2.000,00
Rp.  40.000,00
14.
Pinset
20 buah
Rp. 5.000,00
Rp.  100.000,00
15.
Cawan Petri
20 buah
Rp. 10.000,00
Rp.200.000,00
16.
Beaker glass
10 buah
Rp. 30.000,00
Rp. 300.000,00
17.
Kotak Perlakuan
20 buah
Rp. 15.000,00
Rp. 300.000,00
18.
Kotak ulat
120 buah
Rp. 500.00
Rp. 60.000,00
19.
Kain Kasa
5 meter
Rp. 5.000,00
Rp. 25.000,00
20.
Biaya ganti kelusuhan alat laboratorium
1 lab
Rp. 200.000,00
Rp.200.000,00

Dokumentasi



21.
Cuci cetak
2 roll
Rp. 50.000,00
Rp.100.000,00

Lain-lain



22.
Analisis kandungan Tithonia diversifolia
5 sampel
Rp. 25.000,00
Rp. 125.000,00
23.
Biaya Transportasi Surabaya-Malang
-
Rp. 500.000,00
Rp. 500.000,00
TOTAL
Rp. 5.920.000,00

K.    DAFTAR PUSTAKA

Samsudin. 2008. Virus Patogen Serangga: Bio-insektisida Ramah Lingkungan. http://www.pertaniansehat.or.id [5 September 2009]

Badan Pusat Statistik (BPS). 1994. Survei Pertanian: Luas dan Intensitas Serangan Jasad Pengganggu Padi dan Palawija di Jawa. BPS. Jakarta.

Carter, H.O. 1989. Agricultural Sustainability: An Overview and Research Assessment. Californian Agric. 43: 13−17.

Darmanto, Y. 2007. Pengaruh Ekstrak Polar Bebek (Kalanchoƫ daigremontiana Hammet & Perrier) terhadap Larva Plutella xylostella Linnaeus. Skripsi Program Studi Biologi. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Febrianto, R. 2006. Uji Toksisitas Eucheuma alvarezii terhadap Artemia salina sebagai Uji Pendahuluan Potensi Antikanker. Skripsi Program Studi Biologi. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Hadi, M. 1996. Pengaruh Ekstrak Bunga dan Daun Paitan Tithonia diversifolia Grey (Asteraceae) terhadap Sifat Anti Makan dan Indeks Nutrisi Larva Instar V Heliothis armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae). http://digilib.sith.itb.ac.id/go.php?id=jbptitbbi-gdl-s2-1996-mochamadha-704 [5 September 2009]

Kastoeni, M.T. 1985. Analisis Probit Pendugaan LD50 dan LC50 serta Metode Penghitungannya Menurut Busvine & Nash. BALITHORT. Lembang.

Nathan, Sentil S. and K. Kalaivani. 2006. Combined Effects of Azadirachtin and Nucleopolyhedrosis Virus (SpltNPV) on Spodoptera litura Fabricius (Lepidoptera: Noctuidae) Larvae. Biol. Control 39: 96−104.

Nurtiati, H dan T. Widya. 2001. Pemanfaatan Bioinsektisida Ekstrak Daun Azadirachta indica A. Juss sebagai Pengendali Hayati Ulat Daun Kubis Plutella xylostella L. Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Vol. 6: 55-62.

Sudarmo, S. 2005. Pestisida Nabati Pembuatan dan Pemanfaatannya. Kanisius. Yogyakarta.

Suwandi, J.F, M.A. Wijayanti, dan Mustofa. 2008. Aktivitas Penghambatan Polimerisasi Hem Antiplasmodium Ekstrak Daun Sungkai (Peronema Canescens) In Vitro. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008. ISBN : 978-979-1165-74-7 IV-113   
Triska, A.N., Y. Kurniawan, dan A. Anggoro. 2008. Pestisida Alami dari Ricinine pada Buah Jarak Pagar (Ricinus communis). D3 Teknik Kimia. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Wincyber. 2005. Pemanfaatan Pestisida Nabati untuk Memenuhi Persyaratan Perdagangan Global. http://www.kasumbogo.staff.ugm.ac.id [9 September 2009]








Comments

Popular posts from this blog

Marhaban Ya Ramadhan

ANTIBIOTIKA DALAM KEHAMILAN

Penyemangat Di Pagi Hari