PEMILIHAN MESIN PENGGERAK GENERATOR PADA SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS (PLTBG)
PEMILIHAN
MESIN PENGGERAK GENERATOR PADA SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS (PLTBG)
Abstrak
PLTBG adalah instalasi pembangkit listrik dengan
pemanfaatan biogas sebagai bahan bakar yang dapat diperbaharui. Kotoran sapi
sebagai media penghasil biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTBG
sehingga mengurangi pencemaran lingkungan dan efek rumah kaca. Jawa Tengah
dengan kapasitas peternakan yang besar mempunyai potensi yang cukup baik untuk
pembangunan PLTBG. PLTBG dapat dibangkitkan dengan penggunaan motor bakar
berbahan bakar biogas tetapi mesin berbahan bakar biogas di Indonesia belum
ada. Mesin diesel dan bensin secara teknis dapat digunakan sebagai penggerak
generator PLTBG tetapi efisiensinya yang dihasilkan rendah sehingga perlu
dilakukan modifikasi.Pemilihan mesin dalam penulisan ini untuk menghasilkan
efisiensi maksimal dari mesin dengan memodifikasi mesin berbahan bakar diesel
dan bensin. Berdasarkan hasil analisa mesin diesel dan bensin memerlukan
penambahan conversion kit dan mixer. Conversion kit berfungsi mengatur debit
bahan bakar supaya mengalir konstan dan penambahan mixer bertujuan untuk pencampur
biogas dengan udara. Mesin diesel yang dimodifikasi ini menggunakan sistem
dualfuel engine dimana bahan bakar solar digunakan bersama-sama dengan biogas,
dengan komposisi sekitar 20 % solar dan 80% biogas. Mesin bensin dapat
menggunakan 100% biogas untuk bahan bakar.
Kata kunci : biogas; dual fuel; listrik; PLTBG
Pendahuluan
Peternakan sapi
dari tahun ke tahun semakin besar jumlahnya, penambahan jumlah tersebut
menyebabkan tingkat pencemaran lingkungan yang tinggi antara lain menyebabkan
bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar, endemik bibit
penyakit, dan air resapan tanah dan sungai menjadi beracun dan bau. Dalam
kotoran sapi terkandung gas metana (CH4) apabila dibuang secara
bebas ke atmosfir akan menyebabkan efek rumah kaca, proses ini berakibat suhu
bumi menjadi tinggi, ini adalah yang disebut dengan pemanasan global (global warning), yang secara langsung
meningkatkan intensitas frekuensi angin topan, merubah komposisi hutan ,
mengurangi produksi pertanian, menghancurkan biota laut sehingga ikan mengalami
kekurangan makanan dan ekosistem laut menjadi hancur.
Alasan diatas
dapat dijadikan bahan pertimbangan bahwa kotoran sapi lebih baik dimanfaatkan
daripada dibiarkan menumpuk. Beberapa cara pemanfaatan kotoran sapi antara lain
dengan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik maupun biogas, yaitu suatu
energi yang dihasilkan dari proses biodegradasi dengan bantuan bakteri dalam
kondisi anaerob pada material organik (kotoran sapi). Biogas memiliki kandungan
gas metana yang cukup besar yaitu sekitar 60 % sehingga dapat dijadikan sebagai
bahan bakar untuk kendaraan dan mesin penggerak generator pada pembangkit
listrik. Keuntungan yang didapat dari proses pemanfaatan kotoran sapi bagi
pemilik peternakan sapi adalah menambah penghasilan dari penjualan pupuk
organik dan menghemat pengeluaran biaya penggunaan listrik. Sebenarnya
pemanfaatan kotoran sapi dapat memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi jika
dilakukan dengan cara membangun pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG).
Sebagai contoh
Jawa Tengah memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan PLTBG karena
memiliki peternakan yang besar. Data pada tahun 2002, sapi potong sebesar
13344495 ekor dan sapi perah sebesar 119026 ekor. PLTBG dapat dibangkitkan
dengan penggunaan mesin diesel atau bensin, ini merupakan cara untuk mengatasi
tidak adanya mesin berbahan bakar biogas di Indonesia dan apabila mendatangkan
dari luar negeri biaya pembangunan instalasi PLTBG menjadi besar. Permasalahan
yang muncul dengan penggunaan mesin diesel dan bensin dengan bahan bakar
biogas adalah efisiensi yang dihasilkan
rendah dan cara untuk mengatasi masalah ini dengan cara memodifikasi mesin
diesel atau bensin dan dilakukan pemilihan mesin yang sesuai dengan daya yang
dapat dibangkitkan oleh penghasil gas (digester) yang dimiliki oleh peternakan.
Kaji Teoritik Sistem Konversi Energi
Sistem
instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) dapat dibuat skema sebagai
berikut :
Gambar
1.
Bagan
sistem instalasi pembangkit listrik dari biogas kotoran sapi.
Perubahan biogas
menjadi energi listrik dilakukan dengan memasukkan gas dalam tabung penampungan
kemudian masuk ke conversion kit yang
berfungsi menurunkan tekanan gas dari tabung sesuai dengan tekanan operasional
mesin dan mengatur debit gas yang bercampur dengan udara didalam mixer, dari mixer bahan bakar bersama dengan udara masuk kedalam mesin dan
terjadilah pembakaran yang akan menghasilkan daya untuk menggerakkan generator
yang menghasilkan energi listrik. Karakterisrik pembakaran yang terjadi pada
mesin diesel berbeda dengan pembakaran pada mesin bensin.
Karakteristik
pembakaran biogas didalam mesin diesel
Bahan bakar
biogas membutuhkan rasio kompresi yang tinggi untuk proses pembakaran sebab
biogas mempunyai titik nyala yang tinggi 645 0C – 750 0C
dibandingkan titik nyala solar 220 0C, maka mesin diesel umumnya
digunakan secara dualfuel dengan
rasio kompresi sekitar 15 – 18. Proses pembakaran pada mesin dualfuel, bahan bakar biogas dan udara
masuk ke ruang bakar pada saat langkah hisap dan kemudian dikompresikan didalam
silinder seperti halnya udara dalam mesin diesel biasa. Bahan bakar solar
dimasukkan lewat nosel pada saat mendekati akhir langkah kompresi, dekat titik
mati atas (TMA) sehingga terjadi pembakaran.
Temperatur awal
kompresi tidak boleh lebih dari 80 0C karena akan menyebabkan
terjadinya knocking dan peristiwa knocking yang terjadi pada mesin dualfuel hampir sama dengan yang terjadi
pada mesin bensin, yaitu terjadinya pembakaran yang lebih awal akibat tekanan
yang tinggi dari mesin diesel. Hal ini disebabkan karena bahan bakar biogas
masuk bersama-sama dengan udara ke ruang bakar, sehingga yang dikompresikan
tidak hanya udara tapi juga biogas.
Gambar 2.
Grafik performance pada mesin
a) a sfc biogas dalam dualfuel, b sfc solar dalam mesin diesel, c sfc solar dalam dualfuel
b) a mesin diesel dengan solar
yang diritkan, b efisiensi mesin diesel, c efisiensi dualfuel
Karakteristik
pembakaran biogas didalam mesin bensin
Mesin bensin
dengan rasio kompresi yang hanya berkisar antara 6 – 9,5 tidak cukup untuk
melakukan pembakaran biogas karena titik nyala biogas yang tinggi 645 0C
- 750 0C, untuk itu dilakukan penambahan rasio kompresi mesin
menjadi 10 – 12. Proses pembakaran
biogas sama seperti pada mesin bensin normal, yaitu biogas dan udara masuk ke
ruang bakar dan pada akhir langkah
kompresi terjadi pembakaran, pembakaran
ini terjadi karena bantuan loncatan bunga api dari busi.
Gambar 3. Diagram performance mesin bensin dengan bahan bakar bensin ( ____ ) dan biogas ( __.__ ) 1) daya, 2) torsi, 3) konsumsi bahan bakar spesifik
Daya listrik yang dapat dihasilkan dari PLTBG
Tabel 1. Daya listrik yang dapat dihasilkan dari
peternakan sedang dan besar
Peternakan
sedang
|
Peternakan
besar
|
|
Jumlah sapi
(ekor)
|
60
|
300
|
Biogas yang
dihasilkan (m3/ekor/hari)
|
0,94
|
0,94
|
Biogas yang
dihasilkan dari peternakan (m3/hari)
|
70,5
|
282
|
Daya yang
dihasilkan (kW)
|
3,05
|
15,27
|
Energi yang dihasilkan (kWh)
|
73,2
|
366,5
|
Pemilihan Mesin Penggerak
Berdasarkan hasil survey lapangan bahwa mesin yang dapat digunakan
untuk mesin penggerak generator PLTBG adalah mesin diesel dan bensin. Di
pasaran untuk mesin bensin harganya jauh lebih mahal dari mesin diesel dengan
daya yang sama dan untuk daya yang besar hanya mesin diesel yang dapat
digunakan sebab tidak adanya mesin bensin dengan daya besar di pasaran.
Penggunaan kedua jenis mesin tersebut dalam kenyataannya menghasilkan efisiensi
yang rendah sehingga perlu adanya modifikasi.
Modifikasi yang perlu dilakukan untuk mengubah mesin diesel menjadi
mesin berbahan bakar biogas adalah dengan cara menambahkan conversion kit dan mixer.
Fungsi conversion kit adalah untuk
mengatur debit dan menurunkan tekanan aliran bahan bakar sesuai dengan tekanan
operasional yang diinginkan sedangkan mixer
berfungsi sebagai pencampur bahan bakar dengan udara. Pemasangan mixer terletak pada saluran masuk udara
dan conversion kit terpasang antara mixer dan tabung gas (Gas holder). Sistem modifikasi ini
menggunakan sistem dualfuel yaitu
mesin menggunakan dua bahan bakar yang dilakukan secara bersamaan dengan
komposisi 20% solar dan 80% biogas . Hal ini dilakukan karena titik nyala pembakaran biogas sangat tinggi yaitu
sekitar 645°C-750°C.
Gambar 4
Skema pemasangan mixer
dan conversion kit pada mesin diesel
Modifikasi mesin
bensin hampir sama dengan mesin diesel yaitu dengan cara menambah Conversion kit dan mixer.
Perbedaannya adalah pada mesin bensin bahan bakar biogas dapat digunakan 100%,
hal ini dikarenakan adanya busi sehingga bahan bakar biogas akan cepat
terbakar. Pemasangan mixer terletak
antara saringan udara dan karburator, sedangkan
Conversion kit terpasang
antara mixer dan tabung gas (gas holder). Perkiraan biaya untuk
pembelian Conversion kit dan mixer yaitu sekitar Rp. 4.800.000,00
untuk kondisi alat baru.
Perhitungan ekonomi
Perhitungan
ekonomi penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) untuk
peternakan sedang dan besar dengan
pemakaian mesin diesel dan bensin , dan dibandingkan dengan keuntungan listrik
yang dihasilkan yang disesuaikan dengan tarif dasar listrik PLN.
Tabel 2. Perkiraan
biaya investasi PLTBG pada peternakan
sedang dan besar
Peternakan sedang
|
Peternakan besar
|
|||
Mesin bensin
(3KW)
|
Mesin diesel
(3 KW)
|
Mesin bensin
|
Mesin solar
(15 KW)
|
|
Harga mesin
|
8.000.000,00
|
2.500.000,00
|
Tidak ada
|
51.500.000,00
|
Conversion kit + Mixer
|
4.800.000,00
|
4.800.000,00
|
4.800.000,00
|
|
Total investasi (Rp.)
|
12.800.000,00
|
7.300.000,00
|
56.300.000,00
|
|
Tabel 3. Perkiraan biaya
operasi PLTBG pada peternakan sedang dan besar
Peternakan sedang
|
Peternakan besar
|
|||
Mesin bensin
(3KW)
|
Mesin diesel
(3 KW)
|
Mesin bensin
|
Mesin solar
(15 KW)
|
|
Kebutuhan bahan bakar selain biogas/ tahun
|
Tidak ada
|
2.891.000,00
|
13.008.600,00
|
|
Perawatan rutin / tahun
(0,05x harga mesin)
|
400.000,00
|
125.000,00
|
2.575.000,00
|
|
Biaya operator mesin /
tahun
|
7.300.000,00
|
7.300.000,00
|
7.300.000,00
|
|
Total operasi (Rp.)
|
7.700.000,00
|
10.316.000,00
|
22.883.600,00
|
|
Biaya investasi
dari mesin diesel lebih kecil dari pada mesin bensin, sehingga mesin diesel
lebih menguntungkan dari segi ekonomi. Di lain sisi dari aspek perawatan mesin
diesel dan mesin bensin dapat dikatakan
sebanding dan membutuhkan biaya yang relatif sama. Dilihat dari aspek operasi
mesin diesel lebih mudah, mempunyai umur operasi yang lama dan menggunakan
sedikit bahan bakar untuk penyediaan daya yang sama dibandingkan dengan mesin bensin.
Hal ini dapat dijadikan alasan bahwa mesin diesel lebih menguntungkan sebagai
mesin penggerak pada PLTBG.
Keuntungan dari
membangkitkan listrik dari PLTBG adalah energi listrik yang dapat hasilkan
dikalikan dengan harga listrik yang harus dibayar pemakai jika menggunakan
listrik dari PLN. Harga listrik Rp. 545/kWh dan biaya beban Rp. 30.000,00/kVA.
Nilai rupiah yang dapat dihasilkan dari membangkitkan listrik dari biogas pada
peternakan sedang dengan daya 3 kW (4 kVA) dalam satu tahun dengan penggunaan
tiap hari 24 jam adalah Rp. 15.762.600,00.
Analisa ekonomi pembangkit listrik tenaga biogas dengan
mesin penggerak dari mesin diesel untuk peternakan skala sedang, jika bunga
investasi untuk kredit dari bank 19 % adalah :
Total investasi = Rp.
7.300.000,00 + Rp. 7.300.000,00 x 19%
=
Rp. 8.687.000,00
Umur teknis ekonomis 10 Tahun
Depresiasi =
Rp. 8.687.000,00 / 10
=
Rp. 868.700,00
Cash flow =
Keuntungan + Depresiasi- biaya operasional
=
Rp. 15.762.600,00 +Rp. 868.700,00 – Rp. 10.316.000,00
=
Rp. 6.220.400,00
IRR(Initial Rate of
Return) = 72 %
NPV (Net Present
Value) = Rp. 15.726.618,00
BCR (Benefit Cost Ratio ) = 1,45
PB ( Pay back) = 1
tahun 5 bulan
Nilai rupiah yang
dapat dihasilkan, sesuai harga listrik dari PLN, dari membangkitkan listrik
dengan biogas pada peternakan besar dengan daya 15 kW (19 kVA) dalam satu tahun
dengan penggunaan tiap hari 24 jam adalah Rp. 78.453.000,00. Jika bunga
investasi untuk kredit dari bank 19 % maka analisa pembangkit listrik tenaga biogas
untuk peternakan skala besar adalah
Total investasi = Rp. 56.300.000,00 + Rp. 56.300.000,00 x 19%
=
Rp. 66.997.000,00
Umur teknis ekonomis 10 Tahun
Depresiasi =
Rp. 66.997.000,00 / 10
=
Rp. 6.699.700,00
Cash flow =
Keuntungan + Depresiasi- biaya operasional
= Rp. 78.453.000,00 + Rp. 6.699.700,00 – Rp. 22.883.600,00
=
Rp. 61.537.200,00
IRR(Initial Rate of
Return) = 93 %
NPV (Net Present
Value) = Rp. 170.743.335,00
BCR (Benefit Cost Ratio ) = 2,87
PB ( Pay back) = 1 tahun
1 bulan
Diskusi
Berdasarkan
hasil perhitungan diatas dapat diambil kesimpulan untuk skala peternakan sedang
dan besar lebih baik menggunakan mesin diesel, disamping ekonomis aspek operasi
mesin diesel lebih mudah dibandingkan dengan mesin bensin. Umur operasi mesin
diesel mempunyai jangka waktu yang lama.
Kendala yang
dihadapi untuk pembangunan PLTBG adalah modal awal yang besar, kurangnya
penguasaan ilmu tentang pembangunan PLTBG, adanya keraguaan dari pemilik
peternakan tentang berhasil tidaknya PLTBG, kurangnya perhatian pemerintah
tentang penelitian PLTBG dan kurangnya pemberian bantuan dana bagi pemilik
peternakan. Saran untuk mengatasi kendala diatas adalah peminjaman modal ke
bank atau pemberian kredit lunak oleh pemerintah kepada pemilik peternakan,
perlunya mempelajari lebih dalam modifikasi yang perlu dilakukan pada mesin
untuk PLTBG, pemberian kucuran dana untuk penelitian dari pemerintah, perlunya
adanya penyuluhan terhadap peternak sapi sehingga tidak adanya keraguan lagi
dari para peternak untuk pembangunan PLTBG.
Kesimpulan
1. Pemilihan mesin
harus berdasarkan daya yang dapat dihasilkan oleh digester, harga mesin, biaya
modifikasi dan aspek operasi dan pemeliharaan.
2. Mesin penggerak
generator pada PLTBG untuk skala peternakan sedang dan besar lebih baik dengan
penggunaan mesin diesel karena dari aspek ekonomis , operasi dan pemeliharaan
lebih baik dibanding dengan mesin bensin.
Saran
1. Perlu adanya
kerjasama antara pemerintah maupun pihak swasta dengan peternakan sapi untuk
pembangunan PLTBG.
2. Perlu adanya
penelitian lebih lanjut tentang penggunaan dan pemodifikasian mesin diesel dan
bensin dengan bahan bakar biogas untuk mendapatkan efisiensi mesin yang lebih
baik.
Daftar
Pustaka
Barker, James, C., (2001),
“Methane Fuel Gas from Livestock Wastes A Summary”, North Carolina Cooperative
Extension Service, hal. 1-8.
Mallev, V.L.,(1991), “Operasi dan Pemeliharaan Mesin Diesel”,
Erlangga, Jakarta .
Mathur, M.L. dan Sharma,
R.P., (1980), “A Cource in Internal Combustion Engines”, Dhanpat Rai & Sons, Nai
Sarak Delhi, hal 589-614.
Mitzlaff, Klaus Von, (1988),
“Engines for Biogas”, Deutsche Gesell
schoft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ), Eschborn, hal 1-133.
Obert, Edward, F., (1973), “Internal Combustion Engine and Air Pollution”,
Harper & Row Publishers. Inc, New
York .
Petrovsky, N., (1979), “ Marine Internal Combustion Engine”, Mir
Publishers, Moskow, hal 27-52.
PLN, (2003), “ Tarif Dasar
Listrik 2003”, PLN.
Rocque, A.J.,(1995), “Connecticut ’s Greenhouse
Gas Emissions Inventory 1990 and 1995 Calendar Years”, State of Connecticut
Department of Environmental Protection, Hartford ,
hal vi.
Troitsky, A. dan
Samdkhvalov, M., (1979), “ Motor Vehicle
Engines”, Mir Publishers, Moskow, hal 393-398.
Comments
Post a Comment