Laporan Praktikum Oseanografi "Biota Bentik"
LAPORAN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI
BIOTA BENTIK
Mohammad Muhibbul Ibad (1509100009)
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2010
Abstrak
Makrofaunabentik merupakan komponen penting dalam rantai makanan, terutama di daerah laut. Makrofaunabentik juga digunakan sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi. Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar. Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak tercemar. Kemudian oleh para ahli biologi perairan, pengetahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui dan dapat melaksanakan prosedur pengambilan sampel makrofaunabentik ,mengetahui dan membedakan antara epifauna dan infauna serta mengetahui dan dapat menjelaskan faktor- faktor fisika- kimia dan hidro-oseanografi yang mempengaruhi kehidupan makrofaunabentik tersebut. Hasil yang diperoleh dari percobaan ini sebagian besar adalah infauna, yaitu untuk plot pertama telah ditemukan species yang terbanyak yaitu Anandara granosa sedangkan di plot dua dan tiga yaitu Exirolana.
Kata kunci : makrofaunabentik, infauna.
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Laut adalah bagian yang paling banyak menutupi bumi kita, kurang lebih 71% dari permukaan bumi ini adalah merupakan lautan, laut juga memiliki karakter yang berbeda di setiap sudut di dunia, sehingga bermacacam-macam biota laut yang terdapat pada lautan, dari karakter laut yang berbeda tersebut maka lingkungan laut dapat dibagi-bagi menjadi zona-zona yang berbeda. Tiap tiap zona tersebut memiliki jenis jenis biota laut yang berbeda.
Berbagai tipe makhluk hidup terdapat pada lautan. Bahkan keanekaragaman makhluk hidup di lautan lebih beragam. Banyak dasar klasifikasi yang dilakukan para ahli untuk mengklasifikasikan makhluk hidup pada laut. Mulai dari tingkat kerumitan morfologi dan anatomi tubuh sampai berdasar habitat hidupnya. Pada praktikum ini kita akan membahas berdasar cara/tempat hidupnya.
Berdasarkan dari tempat/cara hidupnya biota laut terbagi menjadi dua yaitu benthos dan plankton. Benthos adalah makhluk hidup laut yang hidup di permukaan dasar laut atau di dalam permukaan laut atau menempel pada substrat. Sedangkan plankton adalah biota laut yang hidup di/ dengan cara mengambang di permukaan peraiaran. Plankton hidup dengan hanya mengikuti arus,berbeda dengan benthos yang pada umumnya dapat bergerak sesuai keinginannya. Pada praktikum kali ini kita akan
membahas tentang benthos. Benthos berdasar letak tempat hidupnya benthos terbagi dua yaitu epifauna dan infauna. Epifauna adalah benthos yang hidup di atas dasar perairan. Sedangkan infauna adalah benthos yang hidup dibawah dasar peraiaran laut.
Berdasarkan ukuran hidupnya benthos terbagi menjadi dua yaitu makrofauna benthik dan mikrofauna benthik. Makrofaunabenthikberukuran lebih dari 0,5 mm, sedangkan mikrofauna benthik berukuran kurang dari 0,5 mm.
2. Permasalahan
Permasalahan pada praktikum kali ini adalah bagaimana mengetahui dan memahami tentang biota bentik beserta klasifikasinya.
3. Tujuan
Tujuan dari praktikum benthos yang telah dilakukan adalah mengetahui dan memahami terminologi dan klasifikasi biota bentik,mengetahui dan mampu melaksanakan metode standard pengambilan dan analisis sampel biota bentik, mengetahui dan mampu membedakan epifauna dan infauna bentik,serta mengetahui dan mampu membedakan makrofauna dan mikrofauna bentik.
TINJAUAN PUSTAKA
Benthos adalah organisme yang hidup di bagian dasar lautan. Termasuk di dalamnya adalah seluruh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup pada daerah-daerah yang masih dipengaruhi oleh air pasang (daerah littoral), daerah continental shelf (sublittotal) dan yang tinggal di laut yang sangat dalam yaitu daerah bathyl dan abyssal (Hutabarat,2008).
Benthic Plants
Penyebaran tumbuhan-tumbuhan hijau dibatasi oleh daerah littoral dan daerah sublittoral dimana masih terdapat sinar yang cukup untuk dapat berlangsungnya proses fotosintesis. Tiga macam grup tumbuh-tumbuhan yang ada pada daerah ini adalah:
1. Tanaman air yang bersel tunggal yang umumnya hidup di bagian permukaan passir dan lumpur.
2. Tanaman air yang berukuran besar, seaweed, yang cenderung dijumpai di segala tempat yang cocok untuk tempat menempel. Tumbuh-tumbuhan lain seperti Chlorophyceae, Rhodophyceae, dan Phaeophyceae.
3. Beberapa tanaman berbunga (Angiosperm) seperti rumput laut Zostera dan beberapa pohon-pohonan dan semak-semakan di daerah littoral.
(Hutabarat,2008).
Benthic Animal
Bermacam-macam jenis hewan invertebrate, banyak dijumpai di dalam benthos. Mereka mempunyai kisaran ukuran yang sangat luass yaitu dari yang berukuran sebesar protozoa sampai kepada yang berukuran sebesar crustacean dan molusca. Ukuran ini kadang-kadang dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan mereka (Hutabarat,2008).
Microfauna istilah ini dipakai untuk menerangkan hewan-hewan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 0,1 mm. seluruh protozoa termasuk dalam golongan ini.
Meiofauna adalah golongan hewan-hewan yang mempunyai ukuran antara 0,1 mm sampai 1,0 mm. Ini termasuk golongan protozoa berukuran besar , Cnidaria, cacing-cacing berukuran kecil dan beberapa crustacean yang berukuran sangat kecil.
Macrofauna meliputi hewan-hewan yang mempunyai ukuran lebih besar dari 1,0 mm. Ini termasuk echinodermata, crustacean, annelid, molusca,dan anggota beberapa phylum lainnya.
(Hutabarat,2008).
Cara lain untuk mengklasifikasikan benthic animal adalah dengan melihat hubungan mereka terhadap tempat hidupnya. Semua hewan yang hidup di atas permukaan dasar lautan dikenal sebagai epifauna dan yang hidupnya dengan cara menggali lubang pada dasar lautan dikenal sebagai infauna (Hutabarat,2008).
Macam-macam hewan invertebrate yang banyak dijumpai:
| Phylum | Subgrup |
| Cnidaria
Plathyhelminthes
Aschelminthes
Annelida
Mollusca
Anthropoda
Echinodermata
Hemichordata
Chordata | Hydrozoa, Anthozoa
Turbellaria
Namatoda
Polychaeta
Gastropoda, Cephalophoda
Crustacea
Crinoidea, Asteroidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Holothuroidea
Enteropneusta
Urochordata, Cephalochordata |
(Hutabarat,2008).
Keadaan lingkungan seperti tipe sedimen, salinitass, dan kedalaman di bawah permukaan member variasi yang amat besar dari satu daerah dasar lautan ke daerah dasar lautan yang lain. Sehingga tidak mengherankan kalau hal ini menyebabkan berbedanya jenis-jenis hewan pada daerah yang berbeda pula (Hutabarat,2008).
Berdasarkan cara makan, organisme bentik dapat dibagi menjadi dua kelompok, antara lain kelompok plankton feeder misalnya bivalvia, crustaceae. Kelompok detritus feeder misalnya cacing polychaeta, hewan gastropoda, binatang mengular (Ophiuroidea), bulu babi (Diadema setosum), sand dollar (Anonim, 2002).
Spesies makrofauna bentik di kelompokan berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran. Organisme intoleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik. Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan kualitas. Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi ling-kungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran. Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup di perairan yang banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan. Organisme toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang berkualitas jelek. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah di perairan yang tercemar oleh bahan organik. Jumlah organisme intoleran, fakultatif dan toleran dapat menunjukkan derajat pencemaran (Weihaupt., 1979).
Untuk ekologi bentik sendiri, terdapat beberapa kelompok organisme yang lebih dominan yang menyusun makrofauna di dasar lunak sublitoral yang terbagi menjadi empat kelompok taksonomi yaitu kelas Polychaeta, Kelas Crustacea, filum Echinodermata, dan filum Mollusca. Pada kelas Polychaeta banyak terdapat spesies pembentuk tabung dan penggali. Pada kelas crustacea, ditemukan spesies yang plaing dominan adalah ostrakoda, amfipoda, isopoda, tanaid, misid yang berukuran besar dan beberapa dekapoda kecil. Mereka biasanya menghuni permukaan pasir dan lumpur. Sedangkan pada Mollusca biasanya terdiri dari beberapa spesies bivalvia yang terdiri dari berbagai spesies gastropoda di permukaan dan pada Echinodermata yang biasanya sebagai bentos subtidal, terutama terdiri dari bintang mengular dan ecinoid (bulu babi dan dolar pasir) (Nybakken, 1988).
Untuk kelas Anthozoa, anggotanya antara lain adalah Anemon Laut, Koral batu atau koral kapur, dan Koral tanduk. Semuanya berupa polyp dan menempel (tanpa medusa) (Jasin,1984).
Kelas Turbellaria hampir semuanya hidup bebas, hanya beberapa saja yang hidup secara parasitis. Berdasarkan bentuk enteronnya kelas Turbellaria dibagi menjadi lima ordo: Acoela, Rhabdocoela, Alloecoela, Tricladida, dan Polycladida (Jasin,1984).
METODOLOGI
Tanggal : 27 Maret 2010
Waktu : 10.00
Lokasi pengambilan sample Gambar 1.(terlampir)
Pengambilan sample benthos dibedakan antara epifauna dan infauna. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel saat praktikum adalah ploting. Sampel epifauna diambil di pinggir pantai dengan luas plot 30 cm2 dan 50 cm2. Pengambilan sampel menggunakan cetok untuk epifauna. Benthos epifauna yang ditemukan dimasukkan dalam kantong plastik berisi air. Sampel infauna diambil di tengah laut menggunakan ponar grab. Ponar grab dijatuhkan di tengah laut dan diangkat dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Hasil pengambilan sampel dimasukkan dam kantong plastik dan diberi label
Pada umumnya metode yang digunakan untuk mengestimasi kelimpahan spesies yang terdapat di pantai, terutama pantai yang landai dengan kisaran pasang surut yang rendah, menggunakan metode transek sabuk (belt transect). Pengukuran lebar transect merupakan hal yang penting dalam metode ini. Lebar transect disesuaikan dengan kondisi lapangan dan obyek yang akan diteliti. Jika transect terlalu sempit maka akan ditemukan nilai yang berbeda dari kisaran dan zonasi yang sesungguhnya secara vertikal. Jika transect terlalu lebar maka hasil yang diperoleh akan menyimpang dari kondisi gradient horizontal akibat hembusan gelombang. Gambar 3. Pengambilan sampel metode kuantitatif (terlampir).
Untuk mempelajari ekologi organisme daerah intertidal yang memiliki perbedaan ukuran dan kelompok taksa disarankan menggunakan metode sampling acak bertingkat/ stratified random sampling (Reef watch, 2004b, 200c). Metode ini sangat baik digunakan untuk mengkaji keanekaragaman jenis dengan tingkat perbedaan yang tinggi, Pengulangan dapat dilakukan dengan metode transect kuadrat. Jika pada perempatan transect kuadrat terdapat kolam, celah, atau mikohabit lainnya penolakan pengambilan sampel pada daerah tersebut dapat dibenarkan.
PEMBAHASAN
Pada pratikum biota bentik ini adalah untuk mengetahui termonolgi dan klasifikasi biota bentik, melaksanakan metode standard pengambilan dan analisis sampel biota bentik, mampu membedakan epifauna dan infauna bentik serta membedakan makrofauna dan mikrofauna bentik. Pratikum ini dilakukan di pantai Kenjeran pada tanggal 27 April 2010 pukul 08.30 WIB serta di rekam dengan GPS, dengan titik koordinatnya adalah south 07014’10,8” dan east 112047’49,2”, dapat dilihat pada gambar 1 (terlampir).
Pada pratikum ini melalui 2 tahap. Tahap pertama menggunakan plot dan tahap kedua menggunakan eckman grab. Pada tahap pertama menggunakan plot. Pertama, pada setiap plot dibuat kuadrat ukuran 0.5 x 0.5 meter guna lebih mudah dalam pengambilan sampel. Lalu, secara manual (dengan menggunakan tangan agar lebih mudah memilih sampel yang di inginkan), dilakukan koleksi semua jenis epifauna bentik yang berada dalam plot kemudian dimasukkan sampel tersebut kedalam kantung plastik dan diawetkan dengan formalin 5 % lalu beri label. Fungsi dari formalin 5 % agar sampel yang didapatkan tetap dalam keadaan baik dan tidak rusak. Setelah itu, diambil sampel kembali dengan plot kuadrat 0.30 x 0.30 meter dan dengan menggunakan sekop atau cetok, diambil sedimen pada sub-kuadrat hingga kedalaman + 15 cm. Digunakannya cetok atau sekop yaitu agar lebih mudah mengambil sedimen dengan kedalaman + 15 cm yang tidak dapat diukur jika menggunakan secara manual atau tangan. Kemudian, sampel dimasukkan kedalam kantong plastik dan ditambahkan air laut tujuannya agar sampel yang ditemukan tidak mati serta tidak rusak morfolgi dan histologi pada bentos.
Pada tahap kedua, menggunakan Eckman grab yang dilakukan di dermaga pantai Kenjeran. Hal ini bertujuan untuk mengambil biota bentik yang berada diperairan yang dalam yang tidak mungkin untuk diambil secara manual dengan menggunakan tangan. Sampel yang diambil dilakukan sebanyak 3 kali hingga mencapai + 100 gra. Setelah itu dimasukkan kresek dan diberi label pada tempat sampel tersebut.
Setelah pengambilan sampel di pantai Kenjeran, kemudian di analisis di laboratorium. Sampel sedimen yang diperoleh disaring dengan menggunakan saringan bertingkat. Untuk membantu proses penyaringan, dialirkan air secara perlahan-lahan agar tidak merusak sampel infauna bentik yang mungkin terdapat dalam sedimen hasil koleksi. Fungsi dari penyaringan adalah untuk menemukan infauna pada sampel yang telah diambil. Penyaringan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu 2 mm, 0.5 mm, dan 0.063 mm (Gambar 3.). Sampel akan tertahan pada saringan tingkat 2 mm dan 0.5 mm yang menunjukkan sampel tersebut adalah makrofauna. Sedangkan organisme mikrofauna akan tertahan pada saringan tingkat 0.063 mm. Kemudian dipindahkan ke kertas koran dan dikering anginkan. Perlakuan yang sama diberikan pada sampel epifauna bentik. Setelah kering, dipisahkan samel makrofauna bentik berdasarkan kesamaannya dan identifikasi hingga spesiesnya. Organisme yang telah dipisahkan diletakkan dalam kertas yang telah di beri label guna mengetahui spesiesnya masing-masing.
Dari analisis data pengamatan, diperoleh beberapa jenis makrofauna bentik, diantaranya adalah Anadara granosa, Balanus sp., Littorina sp., Marcia mamorata, Nassarius jacksonianus, Turiklle sp., Mactra cuneata, Cerithidia anticipata, Plagiocardium pseudolatum, Marcia opima, dan Mactra violacea, Setelah diamati ternyata hasil dari percobaan kebanyakan diperoleh jenis epifauna daripada infauna, yang mana pengertian epifauna adalah organisme-organisme bentik yang hidup diatas ataupun berasonansi dengan permukaan dari dasar perairan, sedangkan infauna adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan organisme-organisme yang hidup disubstrat. Pada infauna ditemukan Ligia sp., Nereis, dan Littorina sp. dari data yang diperoleh bahwa organisme yang banyak ditemukan adalah epifauna. Hal ini disebabkan karena sedimen yang di pantai Kenjeran tersebut memilki tingkat kepekaan yang sangat tinggi serta lapisan sedimen yang rapat dan dominan yang terdiri dari lumpur sehingga menyebabkan organisme sulit untuk hidup pada kondisi tersebut, sehingga jenis infauna tertentu yang bisa tinggal pada sedimen tersebut.
Makrofauna merupakan sejumlah organisme yang ukuran tubuhnya lebih besar daro 0.5 mm. Sedangkan arti dari bentik sendiri adalah organisme perairan yang hidupnya terdapat pada substrat dasar dari suatu perairan, baik yang bersifat iesu (melekat) maupun yang bersifat vigi (bergerak bebas). Sehingga dapat didefinisikan kembali bahwa makrofauna bentik merupakan organisme (hewan) yang hidup pada substrat suatu perairan yang memiliki ukuran tubuh yang lebih dari 0.5 mm.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa dalam ekosistem pantai dengan tipe landai berlumpur banyak ditemukan jenis epifauna daripada infauna yang hidup diatas ataupun berasonansi dengan permukaan dari dasar perairan. Hal ini disebabkan pengambilan sampel di tepi pantai dan disebabkan karena sedimen yang di pantai Kenjeran tersebut memilki tingkat kepekaan yang sangat tinggi serta lapisan sedimen yang rapat dan dominan yang terdiri dari lumpur sehingga menyebabkan organisme sulit untuk hidup pada kondisi tersebut, sehingga jenis infauna tertentu yang bisa tinggal pada sedimen tersebut. Faktor yang memengaruhi keanekarangaman bentos antara lain keadaan lingkungan seperti tipe sedimen, salinitas, dan kedalaman di bawah permukaan member variasi yang amat besar dari satu daerah dasar lautan ke daerah dasar lautan yang lain. Sehingga tidak mengherankan kalau hal ini menyebabkan berbedanya jenis-jenis hewan pada daerah yang berbeda pula.
DAFTAR PUSTAKA
Hutabarat Sahala. 2008. Pengantar Oseanografi. Universitan Indonesia press: Jakarta
Jasin Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan (invertebrata dan Vertebrata). Sinar Wijaya: Surabaya
McKenzie, L. J. and Campbell, S. J. 2002. Seagrass-watch: Manual for Community (Citizen) Monitoring of Seagrass Habitat, Western Pacific Edition (QFS, NFC, Cairns) Australia 43 pp.
Nybakken, J. W. 1997. Marine Biology An Eologican Approach. An Imprint of Addison Wesley Longman, Inc: New York.
Pechenik Jan. 2000. Biology Of The Invertebrates. Mc Graw Hill: USA
Reef Watch. 2004a. Reef Watch Benthic Identification Manual. Version 4 (14thOctober 2004). Reef Watch Monitoring Community Program. Adelaide. Australia.
Reef Watch. 2004b. Reef Watch Benthic Quadrat Survey Manual. Version 4 (17th August 2004). Reef Watch Monitoring Community Program. Adelaide. Australia.
Tan Leo Dr. 2001. A Guide To Seashore. Singapore Science Center: Singapura
[ITIS]. 2003. Andara. http:// www.itis.gov/ servlet/ SingleRpt/ SingleRpt? search_topic =TSN&search_value=79337. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2008 pukul 20.00 WIB.
Weihaupt, J.G.1979. Exploration Of The Ocean5. New York: Mc Millan Publishing Co.Inc
Lampiran 1
| NO | NAMA SPECIES | FOTO | LITERATUR | KETERANGAN |
| 1 | Anadara granosa |
|
| Taksonomi Kingdom :Animalia Phylum :Mollusca Class :Bivalvia Order :Arcoida Family :Arcidae Genus :Anadara Species :Anadara granosa (Gray 1847 dalam ITIS 2003)
Deskripsi Anadara granosa hidup di perairan pantai yang memilki pasir berlumpur dan dapat ditemukan pada ekosistem estuari, mangrove dan padang lamun. Umunya hidup mengelompok dan ditemukkan pada substrat yang kaya kadar organik (Tan, 2001) |
| 2 | Littorina sp.
|
|
| Taksonomi Kingdom : Animalia Phylum: Mollusca Class : Gastropoda Subkelas:Prosobranchia Ordo:Mesogastropoda Family:Littorinidae Genus:Littorina Species: Littorina sp.
Deskripsi Famili Littorinidae banyak hidup di air tawar, memilliki cangkang yang bulat dan spiral. Mata terdapat pada dasar tentakel. Contoh Littorina litorea. (Jasin, 1984). Littorina merupakan siput laut kecil sejati. Termasuk dalam herbivor laut, biasanya berukuran lebih kecil dari 2.5cm. Kebanyakan hidup pada zona intertidal. Namun pada beberapa spesies lain hanya ditemukan pada daerah high tide (Pechenik, 2000).
|
| 3. | Balanus sp
|
|
| Taksonomi Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class: Maxillopoda Ordo: Cecillia Family: Archaeobalanidae Genus: Balanus Species : Balanus sp.
Deskripsi Umumnya hewan litoral merupakan modifikasi dari crustacea. Hewan ini hidup bertenag bebas dan menempel pada karang-karang. Kakinya telah mengalami modifikasi untuk menangkap plankton. Famili Balanidae memiliki cangkang yang luas dan hidup di area yang terbuka pada permukaan substrat pada zona litoral. (Tan, 2001)
|
| 4 | Ligia sp.
|
|
| Taksonomi Kingdom: Animalia Phylum: Class: Malacostraca Ordo: Isopoda Family: Ligiidae Genus: Ligia Species: Ligia sp.
Deskripsi Ordo Isopods merupakan kerabat dari amphipods tetapi dorsoventral agak datar lateral. Hewan ini pemakan bangkai dan bernapas memerlukan oksigen dengan alat pernapasan yang strukturnya mirip paru-paru di daerah perutnya. (Tan, 2001) |
| 5 | Nereis sp.
|
|
| Taksonomi Kingdom: Animalia Phylum: Annelida Class Polychaeta Ordo:Phyllodocida Family: Nereididae Genus:Nereis Species: Nereis sp.
Deskripsi Umumnya hewan kelas Polychaeta hidup dalam air. Hewan ini memiliki sepasang mata dan sepasang alat sensor tambahan (tentakel) pada bagian anterior tubuhnya. Tubuhnya luas ke samping menjadi rangkaian tipis dan datar yang disebut parapodia. Hidup pada lubang yang dengan cara menggali sendiri. Famili Nereididae hidup bersimbiosis komensalisme dengan kepiting pertapa atau dengan Polychaeta lainnya. Pada beberapa spesies lain hidup di air tawar. Hewan ini biasanya mati setelah bertelur. (Pesschenik, 2000)
|
| 6 | Nassarius jacksonianus |
|
| Taksonomi : Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Gastropoda Ordo :Neogstropoda Family : Buccinidae Genus : Nassarius Spesies: Nassarius sp. Deskripsi Hewan ini merupakan bekicot yang memiliki cangkang spiral oval yang menyerupai sebuah lubang zaitun, dengan tabung panjang seperti menyedot yang menonjol dari ujung kulit. (Tan, 2001)
|
| 7. | Mactra cuneata |
|
| Taksonomi Phylum : Mollusca Class : Bilvalvia Ordo : Veneroida Family : Mactridae Genus : Mactra Spesies : Mactra cuneata (Tan, 2001) Deskripsi Bagian eksterior biasanya berwarna putih dengan warna kecoklatan yang berbeda-beda ketebalannya dari umbuns ke ventral. Antrior dorsal margin ramping cembung dan posterior dorsal margin biasanya lurus.
|
| 8. | Plagiocardium pseudolatum |
|
| Taksonomi Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Bilvalvia Ordo : Veneroida Family : Chardiidae Genus : Plagiocardium Spesies : Plagiocardium pseudolatum (Tan,2001) Deskripsi Panjang maksimum 7,5 cm . Kebanyakan berukuran 4.5 cm dan banyak ditemukan di daerah litoral dan sublitoral dengan dasar berpasir. Banyak dicari untuk dimakan dan digunakan sebagai kerajinan tangan(Tan,2001)
|
| 10. | Mactra violase |
|
| Taksonomi Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Bilvalvi Ordo : Veneroida Family : Mactride Genus : Mactra Spesies : Mactra violase
Deskripsi Pada spesies ini berbentuk segitiga sama sisi, tipis, mengkilap dan ditutup dengan periostracum emas tipis yang menonjol lebih dekat di tepi ventral dan menjauhi umbon. Warna ini diantara ungu gelap sampai putih(Tan, 2001) |
Lampiran 2.
Peta Lokasi

Gambar 2. Peta lokasi Kenjeran
Tempat : Pantai Kenjeran, Surabaya
Hari,Tanggal : Sabtu, 27 Maret 2010
Pukul : 07.30 WIB
Koordinat South : 07014’10,8”
East : 112047’49,2”,
Elevasi : 56 ft
![]() |
![]() | ![]() | ||
Lampiran 3


Gambar 3a. Beberapa contoh teknik sampling dengan menggunakan metode kuantitatif. Dari atas ke bawah : pengambilan sedimen dengan core, jenis core yang digunakan untuk mengestimasi kelimpahan hewan bentos di pantai bersedimen, contoh kuadrat, pemotretan obyek studi dalam kuadrat, penggalian hewan bentos secara destruktif dan LIT (McKenzie 2002).



Gambar 3b. Beberapa contoh petak sampling yang digunakan untuk meneliti populasi hewan dan tumbuhan dengan ukuran tubuh yang berbeda-beda. Dari atas ke bawah : Plot dengan 8 sub-sampling ukuran 50 x 25 cm, plot 1 x 1 m untuk hewan sesil yang menempel di batu, penggunaan kuadrat pada daerah pantai berbatu dan pantai berpasir (lamun), skema ayakan berlapis, dan contoh stratified quadrat (dari berbagai sumber).
![]() | |||
![]() | |||
Gambar 3d. Kelompok bentos secara keseluruhan























sangat membantu sekali. thanks gan.....
ReplyDelete