GENETIKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam tubuh kita terdapat banyak sekali jumlah kromosom yang membawa kode genetic. Inilah yang membedakan kita dengan individu yang lainnya. Praktikum genetika ini membuktikan bahwa tidak ada kode genetic yang sama persis terbukti pada perkawinan dihibrid dihasilkan anakan yang sama tapi berbeda kandungan gennya. Oleh karena itu kita perlu membuktikan kebenarannya lewat praktikum kali ini.
Tahun 1932 blakseslee berhasil membuktikan bahwa taster kemungkinan TT atau Tt, ini adalah salah satu kelainan kromosoim. Untuk itu kita akan mempelajarinya. Hal ini mendorong kita untuk melakukan praktikum ini agar diperoleh hasil yang diharapkan.

1.2 Permasalahan
Permasalahan dalam praktikum ini adalah bagaimana kita bias membuktikan kombinasi genotip dari perkawinan dihibrid dan mempelajari penurunan sifat buta warna serta menerapkan rumus-rumus chi-square sehingga didapatkan hasil yang yang memuaskan.

1.3 Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan kombinasi genotip yang terjadi dari perkawinan dihibrid dan membuktikan rasio fenotip mendel 9:3:3:1. Sderta mengetahui penurunan sifat buta warna pada suatu keluarga dan juga dapat menerapkan rumus chi square(X2).









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1       Kromosom
Bagian utama sebuah sel terdiri atas nucleus dan sitoplasma, didalam nucleus terdapat benang-benang halus yang disebut “Kromatin”. Bila sel siap untuk memblah benang-benang halus itu dipintal membentuk kromosom. Kromosom adalah suatu struktur padat yang terdiri dari dua kom[omnen molekul yaitu prein dan DNA. Sruktur padat kromosom hanya dapat dilihat denganh jelas padea tahap metaphase saat pembelahan sel(Kaufman, 1989).

2.1.1    Nukleus (Unit Dasar Kromosom)
Cara penyusunan molekul DNA dan prein dalam kromosom sebenarnya cukup rumit. Pengemasan DNA dalam kromosom kerja ditahap profase. Proses pengemasan DNA adalah sebagai berikut : Unati DNA dintal pada suatu set protein kisyon menjadi suatu bentukan yang disebut unit nukleosom. Unit – unit nukleosom tersusun padat membentuk barang – barang yang lebih padat dan terpintah menjadi lipatan – lipatan solenoid. Lipatan solenoid tersusun memadat menjadi lengan kromatid. Lengan kromatid kembar disebut kroriosom ( Weaver, 1997).
2.1.2    Gambar Pengemasan DNA didalam Kromosom

2.1.3    Bagian – Bagian dan Bentruk Kromosom
Suatu kromosom terdiri dari beberapa bagian yaitu kromatid, kromomer, sentromer atau kinetokor, satelit dan telomere.
Gambar bagian kromosom :

2.1.4    Kromatid
Kromatid adalah satu dari dua lengan hasil replikasi(perbanyakan kromosom). Kromatid masih melekat satu sama lain pada bagian sentromer. Istilah lain dari kromatid adalah kromorema(jarak kromaremata). Kromorema merupakan filament yang sangat tipis yang terlihat selama tahap profase. Kromorema sebenarnya merupakan istilah untuk satu struktur yang sama(Pai, 1992).

2.1.4.1 Kromometer
Kromoter merupakan struktur bentuk manic-manik yang merupakan akumulasi dari materi kromatin yang terkadang terlihat saat interfase. Kromoter terlihat jelas pada kromosom polter. Kromosom politer yaitu kromosom dengan DNA yang telah direplikasi berulang berulang kjali tanpa adanya pemisahan dan terletak berdampingan sehingga bentuk kromosom seperti kawat(Frieed, 1999).

2.1.4.2 Sentromer
Sentromer adalah daerah kontriksi (pelekukan) disekitar pertengahan kromosom. Pada sentromer terdapat kkiretokor. Kiretokor adalah bagian kromosom yang merupakan tempat pelekatan benang-benang spindle selama pembelahan inti dan merupakan tempat melekatnya lengan kromosom.
2.1.4.3 Satelit
 Satelit adalah bagian kromosom yang berbentuk bulatan dan terletak di ujungf lengan kromatid. Satelit terbentuik karena adanya kontriksi sekunder didaerah tersebut (Pai, 1991).
2.1.4.4 Telomer
Teromer merupakan istilah untuk daerah terujung pada kromosom. Menurut letak sentromer pada lengan kromatid, kromosom dibagi menjadi empat bentuk, yaitu: kromosom metasentrik (kromosom yang sentromernya membelah membagi dua bagian kromatid), kromosom submetasentrik, kromosom akosentrik dan kromosom telosentrik (kromosom yang letak sentromernya di ujung suatu kromatid).
Gambar macam-macam bentuk kromosom:

2.1.5    Tipe dan Jumlah Kromosom
Tipe dan jumlah kromosom setiap makhluk hidup bebeda-beda. Hal ini dikarenakan ukuran kromosom dan posisi sentromernya berbeda. Tampiolan visual kromosom setiap individu dinamakan kariotipe. Pada manusia setiap sel sematikl berjumlah 46 kromosom. Kromosom tersebut dapat disusun berpasangan dimulkai dari kromosom yang terpanjang. Kromosom ditempatkan pada suatu lokus. Kromosom dibagi menjadi dua yaitu genosom dan autosom(Adisoemarto, 1984).

2.2       Gen
Istilah gen diciptakan oleh W. Johansen pada tahun 1909. Gen adalah unit instruksi untuk menghasilkan atau mempengaruhi suatu sifgat hereditas tertentu. Gen terdiri dari DNA yang diselubungi dan diikat oleh protein. Unit informasi genetika adalah DNA(Weaver, 1997).

2.2.1    Letak dan Simbol Gen
Letak suatu gen pada kromosom disebut lokus. Lokus gen terdapat tiap kromosom, sedangkan kromosom sel diploid selalu memiliki 2 lokus untuk setiap karakter sifat herediternya.
Gambar letak gen linier


2.3       Alel
Alel disebuit versi alternetif gen yang menjelaskan adanya variasi sifat pad pewarisan suatu sifat. Isyilah alel diperkenalkan oleh W. BAterson dan E. R. Saun dens pada tahun 1902. Dalam alel terdapat karekter resesif dan dominan.



2.3.1    Letak dan Simbol Alel
Dua gen misalnya gen B dan b terletak pada lokus yang sama dari suatu kromosom dan kromosom komolognya. Gen sealel harus diberi symbol dengan huruf yang sama tetapi dibedakan. Bila pengaruh kedua alel untuk menumbuhkan suatu yang sama dominannya, kedua alel tersebut ditulis dengan huruf yang sama atau dalam keadaan homozigot (dua alel berbeda untuk sebuah gen). oleh karena adanya dominan dan resesif, penampakan organism secara fisik disebut fenotip dan penyusun genetikanya disebut genotip (Kaufman, 1989).


2.4       DNA
DNA (Deoxyribonuice Acid) atau deoksoniosa nukleat (AND) merupakan tempoat penyimpanan informs genetic. DNA merupakan polimer nukleotida. Setiap nukleotida terdiri dari tiga gugus molekul yaitu gula 5 karbon (dioksiribosa) (Fried, 1999).
2.4.1    Struktur DNA
Pada tahun 1953, Frnacis criek dan James Watson menemukan model DNA sebagai suatu struktur heliks beruntai ganda yang dikenal dengan nama heliksganda Watson –Criek. DNA merupakan makromulekul polinukleutida yang berulang-ulang tersusun rangkap, membentuk DNA heliks ganda (double heliks) dan berpilin kekanan. Setiap nukleutida terdiri dari tiga gugus molekul, yaitu:
a.   Gula 5 karbon ( 2-deoksiribosa)
b.   Basa nitrogen terdiri dari golongan purin yaitu adenine (A) guanine (G), serta golongan pirimidin sitosin (C) dan timin (T) struktur kimia komponen penyusun DNA adalah:

c.   Timin

Prekusor merupakan suatu unsure awal pembentukan senyawa deoksiribo nukleusida yang berikatan dengan gugus yang bersifat membentuk suatu nukleusida. Jumlah adenine selalu sama dengan jumlah timin dan jumlah guanine selalu sama dengan jumlah sitosin. Fenomona ini dinamakan ketentuan Charoff. DNA heliks ganda mempunyai suatu polaritas. Polaritas tersebut dikarenakan salah satu ujung rantai DNA merupakan gugus fosfat dengan karbon 5 – dioksiribosa pada ujung terminal nukleotidanya. Polaritas heliks ganda berlawanan orientasi satu sama lain (Adisoemarto, 1984).


2.4.2    Replikasi DNA
Replikasi adalah peristiwa sintesis DNA. Saat suatu sel membelah secara mitosis. Tiap-tiap sel hasil pembelahan mengandung DNA penuh dan identik seperti induknya. Dengan denikian DNA harus secara tepat direplikasi sebelum proses pembelahan dimulai. Ada tiga model replikasi DNA yaitu:
1.      Replikasi semi konserfatif mempertahankan mlekul dari DNA lama dan membuat molekul DNA baru
2.      Replikasi semikonservatif akan menghasilkan molekul dari DNA lama dan DNA baru, tetapi tiap molekul terdiri dari satu untai DNA lama yang rangkap dan satu untai DNA baru
3.      Replikasi dispeersif mengasilkan 2 molekul DNA lama dan DNA baru yang berselang-seling ditiap untai.
Dari ketiga model tersebut, model semikonservatif merupakan model yang tepat untuk proses replikasi DNA. Model replikasi ini tekah dibuktikan oleh meselon dan sathl. Replikasi DNA semikonservatif berlaku bagi organism prokariot maupun eukariot (Pai, 1992).

2.5       RNA
RNA (Ribo Nukleid Acid) atau asam ribo nukleat merupakan makro mulekul yang berfungsi sebagai penyimpanan dan penyalur informasi genetic. RNA sebagai penyimpan genetic misalnya pada materi genetic virus terutama golongan retrovirus. RNA sebagai penyalur informasi genetic mi9salnya pada proses translasi untuk sintesis protein. RNA juga berfungsi sebagai enzim (ribozim) yang dapat mengkatalis informasi RNA-nya sendiri atau molekul RNA lain (kaufman, 1989).

2.5.1    Struktur RNA
RNA merupakan rantai tunggal polinukleutida. Setiap setiap polinukleutida terdiri dari tiga gugus molekul yaitu:
a.       5 karbon (Ribosa)
b.      Basa nitrogen dari golongan purin
c.       Golongan pirimidin sitosin (C) dan urasi L (U)
(Pai, 1993).

2.5.2    Tipe RNA
Tipe RNA terdiri dari tiga tipe yaitu:
a.       mRNA atau RNAD
b.      tRNA atau RNAt
c.       rRNA atau RNAr
(Adisoemarno, 1948)
2.5.3    RNAd
RNAd merupakan RNA yang urutan basanya komplementer (bepasangan) dengan salah satu urutan basa rantai DNA. RNAd membawa pesan atau kode genetic (kodon) dari kromosom (didalam inti sel) keribosom (di sitoplasma). Kode genetic tersebut menjadi menjadi cetakan untuk menentukan spesifitas urutan asam amino pada ranati polipoptida. RNAd berupa ranati tunggal yang relative panjang.


(Kaufman, 1989).
2.5.4    RNAr
RNAr merupakan structural yang utama didalam ribosom. Setiap sub unit ribosom terdiri 30 – 46% molekul RNAr dan 70 – 80 % protein.

2.5.5    RNAt
RNAt merupakan RNA yang membawa asam amino satu persatu keribosom. Pada salah satu ujungf RNAt terdapat tiga rangkaian basa pendek yang disebut anti kodon. RNAt berfungsi membawa  asam amino spesifik yang natinya berguna dalam sintesis protein yaitu pengurutan asam amino sesuai urutan kodon pada RNAd (Pai, 1992).

2.6       Kode Genetik
Kode genetik adalah cara pengkodean pada DNA atau RNA untuk menmetukan urutan asam amino pada saat urutan asam amino pada saat sintesis protein. Geb terekspresi melalui proses transkipsi (pengutipan) dan transiasi (pnerjemahan) DNA yang masing-masing melalui tahapan inisiasi, elangasi dan terminasi.



(Kaufman, 1989).
2.7       Mutasi Genetik
Perubahan jumlah kromosom meliputi euploidi, nutoploidi, dan allopoidi serta aleploidi. Trimiso pada tumbuhan contohnya Datula stramonium (kecubung) 25 kromosom. Trisomi pada manusia meliputi sindrom klineferter, sindrom Edward, sindrom patau, sindrom down, laki-laki 47 XYY. Monosomi pada manusia adalah sindrom turner 45 X sedangkan polisomi pada manusia adalah wanita poli X, 48 XXXX, 49XXXX (Suryo, 2005).

2.8       Buta Warna
Buta warna merupakan kelainan pada individu yang tidak mampu membedakan seluruh atau beberapa warna misalnya hijau dan merah. Individu tersebut tidak memiliki reseptor yang dapat mendeteksi cahaya pada panjang gelombang hijau atau merah. Skema penurunannya:



Buta warna merupakan karakter resisif yang tertaut pada kromosom X. Buta wearna lebih sering dijumpai pada laki-laki dari pada perempuan (Surya, 2006).

2.9       Hemofilia
Hemofila disebabkan alel resesif yang tertaut kromosom X. hemofilia merupakan sifat resesif yang tertaut seks yang disebabkan oleh tidak adnya protein tertentu yang diperlukan untuk penggumpalan darah. Skema penurunnya:


(suryo, 2005).
2.10     Hukum Mendel I
Hokum mendel disebut juga hokum segrasi. Hokum mendel I menyatakan bahwa pada waktu pembentukan gamet terjadi segrasi (pemisahan) alel-alel suatu suatu gen secara bebas dari diploid menjadi haploid.

2.10.1  Persilangan Monohibrid
Perkawinan yang menghasilkan pewarisan satu karakter dengan dua sifat berbeda. Contoh:




2.11     Hukum Mendel II
Hokum mendel II disebut juga hokum penggabungan secara bebas. Hokum mendel II menyatakan bahwa pada waktu pembentukan gamet, alel-alel berbeda yang telah bersegrasi bebas (misalnya alel B memisah dari alel b, serta alel T memisah dari alel t) akan berhabung secara bebas membentuk genotip kombinasi-komboinasi alel yang berbeda.
2.11.1  Perkawinan Dihibrid
Perkawinan yang menghasilkan pewarisan dua karakterr yang berlainan. Misalnya persilangan tanaman kopri berbiji bulat berwarna kuning dengan kopri berbiji keriput berwarna hijau. Ternyata hasil persilangan adalah 100% anakan berbiji bulat, berwarna kuning. Selanjutnya jika tanaman anakan ini disilangkan sesame akan menghasilkan 9/6 bagian biji kuning, 3/16 keriput, kuning. 3/16 bulat hijau. 3/16 keriput kuning dan 1/6 keriput hijau.
2.11.2  Backross
Merupakan persilangan antara anakan F1 yang heterozigot iyang homozigot dominan.
2.11.3  Persilangan Resipok
Merupakan persilangan ulang dengan jenis kelamin yang dipertukarkan.
2.12     Persilangan Semu Hukum Mendel
2.12.1  Dominan Tidak Sempurna
Alel dominan tidak dapat menutupi alel resesif sepenuhnya. Akibatnya individu yang heterozigot memiliki sifat yang setengah dominan dan setengah resesif.
2.12.2  Kodominan
Kodominan adalah dua alel suatu gen yang menghasilkan produk berbeda dengan alel yang satu tidak dipengaruhi ale-alel yang lain.
2.12.3  Alel Ganda
Merupakan fenomena adanya tiga atau lebih alel dari suatru gen. umumnya satu gen tersusun dari alel alternativenya.
2.12.4  Alel Letak
Merupakan alel yang dapat menyebabkan kematian bagi individu yang memilikinya.
2.12.5  Alel Letak Resesif
Alel yang dalam keadaan homozigot resesif dapat menyebabkan kematian, contohn ya albino, sapi bulldog
2.12.6  Alel Letak Dominan
Alel yang keadaan homozigot dominan dapat menyebabkan kematian, contohnya ayam jambul.
2.13     Interaksi Genetik
Interaksi ini terjadi bila dua atau lebih gen mengekspresi protein enzim yang mengkatalis langkah-langkah dalam suatu jalur yang sama. Interaktif genetika ini menyebabkan terjadinya atavisme, polimeri, kriptomeri, epistasis, hipostasis dan klomplementer.
2.14     Tautan
Tautan pada kromosom tubuh disebut disebut tautan autoromol. Sedangkan tautan kelamin disebut juga tautan seks.
2.15     Pindah Silang
Merupakan peristiwa pertukaran gen-gen suatu kromatid dengan gen-gen kromatid homolognya.
2.16     Golongan Darah Manusia
2.16.1  Golongan Darah Sistem ABO
Penggolongan darah system AOB berdasarkan adanya dua macam antigen yaitu antigen A dan antigen B serta dua macam antibody yaitu Anti A dan Anti B.
2.16.2  Golongan Darah Sistem MN
Penggolongan darah ini berdasarkan adanya salah satu jenis antigen gliprotein yang disebut glikotonin A.
2.16.3  Golongan Darah Sistem RH
Penggolongan darah ini berdasarkan Rheus.











BAB III
METODOLOGI
3.1       Alat dan Bahan
3.1.1    Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah dua kaleng, kapas, jarum franke, gelas obyek dan tissue.
3.1.2    Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kancing dengan empat wearna yang berbeda masing-masing tiga lusin, buku tes buta warna, alcohol 70%, antigen A dan antigen B.

3.2       Cara Kerja
3.2.1    Uji chi square (X2)  Pada Perkawinan Dihibrid
Tentukan dan catat empat warna kancing untuk mewakili mewakili gen: batang tinggi (T), batang pendek (t), bunga merah(M), dan bungah putih (m). batang tinggi dan bunga merah bersifat dominan, serdangkan batang pendek dan bunga put9ih bersifat resesif. Masukkan kancing-kancing yang mewakili ukuran batang ukuran batang dalam satu kaleng(kaleng batang) dan yang mewakili bunga dalam kaleng yang lain(kaleng warna). Aduk dengan tangan agar kancing-kancing tercampur. Ambil dua kancing masing-masing dari kaleng batang dan kaleng warna secara bersamaan dan tanpa melihat. Gabungkan kancing-kancing yang terambil dari (C) menjadi satu sehingga berjumlah empat kancing. Baca dan catat kombinasi warna (genotip) yang diperoleh dan fenotipnya. Ulangi (3) dan (4) sampai kancing-kancing dalam kaleng habis. Isi table pada hasil pengamatan dan lakukan perhitungan chi square (X2) dengan rumus X2=
Bandingkan hasil perhitungan dengan table dibawah ini dan interprestasikan hasil [ercobaan yang telah dilakukan.
Derajat kebebasan
kemungkinan

0.99
0,95
0,70
0,30
0,05
0,01

1
0,001
0,004
0,148
0445
3,841
6,635

2
0,020
0,103
0,713
1,386
2,408
9,210

3
0,115
0,352
1,424
2,366
3,665
11,341

4
0,297
0,711
2,195
3,357
4,878
13,277


3.2.2    Uji Buta Warna
Sediakan buku tes uji buta warna, baca satu persatu halamnnya, kemudian catat hasil salah dan benarnya apakah orang tesebuyt termasuk normal atau tidak.
3.2.3    Golongan Darah
Sterilkan jarum probandus dan ujung jari dengan alkohol. Ujung jari tengah detekan kemudian ditusuk dengan jarum sampai darah keluar. Darah yang keluar deitreteskan ke gelas obyek 2 tetes dan terpisah masing-masing tetesan darah diberi antigen A dan antigen B. amati penggumpalannya.

Comments

Popular posts from this blog

Laporan Praktikum Kimia Organik Uji Asam Kromat

Metode Pengecatan Bakteri Gram Posotif dan Bakteri Gram Negatif